25 November 2015

Horee... Saya Menjadi Guru!

Penulis dengan anak-anak di sekitar Sekolah Laskar Pelangi, Belitung Timur
Tepat di hari guru tahun ini saya memiliki kesibukan baru. Semoga menjadi kesibukan yang positif yang tidak membuat diri saya lelah, bahkan sebaliknya membuat diri saya lebih bersemangat dan bergairah.

Begini ceritanya...

Sore dua hari lalu saya menggendong anak saya jalan-jalan keluar rumah sekedar menikmati udara senja. Seperti biasa hal ini saya lakukan setiap kali punya kesempatan. Tanpa ada persiapan apa-apa dan tanda-tanda alam tiba-tiba tetangga depan rumah saya menyampaikan sesuaitu,

“Mas, Tolong bisa bantu ngajari anak saya gak? (Anak) Ini biasanya nilainya bagus kok kemaren saat try out tiba-tiba nilanya anjlok, saya jadi khawatir. Makanya saya minta tolong mas siapa tahu bisa bantu ngajari anak saya.”

Saya cukup kaget kok tiba-tiba ibu tetangga rumah ngomong seperti itu. Informasi saja, saya baru berdomisili di rumah yang sekarang ini baru dua bulan lebih. Terhitung jarang sekali saya berinteraksi intens dengan tetangga sekitar karena memang tidak ada waktu luang berlebihan,  selain memang tampaknya saya agak kuper dalam hal tips and trik bertetangga. Paling kalau sedang pergi ke masjid saya menyapa setiap orang yang kebetulan ada di depan rumah mereka yang berada di pinggir jalan.

Dan malam ini adalah pertemuan pertama proses belajar mengajar ala anak sekolahan sedang les. Biasanya saya yang diajar pelajaran sekolah, kini giliran saya mengajar.

Pembahasan pertama adalah matematika dan fisika. Untung soal yang ditanyakan bisa dengan mudah saya ingat-ingat lagi dan pahami, kalau tidak bisa berantakan performa pertama saya dihadapan anak-anak didik ini, yang kalau diingat sejarahnya sebenarnya tidak ada angin tidak ada hujan mereka menjadi murid saya dalam hal pelajaran sekolah.

Di pertemuan malam ini saya tidak langsung masuk ke inti materi terlebih dahulu. Di awal sesi, saya bercerita panjang lebar tentang berbagai perspektif saya mengenai pendidikan dan bagaimana seharusnya seorang pembelajar menyikapi ilmu yang ingin mereka tekuni. (tentunya sesuai kadar anak SMP sebagai pendengar.) Sebenarnya juga pengalihan saja karena saya masih khawatir tidak bisa menerangkan tentang materi pelajaran yang mereka tanyakan. Hehehe...

Selesai ceramah singkat saya tentang pendidikan, dan saya lihat wajah mereka tampak bosan langsung saya mulai dengan membuka materi yang ingin mereka tanyakan. Satu, dua, tiga soal mereka ajukan dan alhamdulillah saya bisa memberikan petunjuk dan contoh cara mengerjakannya. Ada beberapa yang saya langsung paham cara mengerjakannya, dan ada juga yang saya perlu bantuan Google untuk memahami dan mengerti cara mengerjakannya dengan singkat dan jelas.

Aktivitas baru saya menjadi guru les ini dimulai dari pukul 19:43 WIB hingga sampai menjelang pukul 22.00 WIB. Dengan adanya aktivitas ini saya jadi mengingat lagi kenangan mempelajari soal-soal demikian beberapa tahun lalu saat saya masih SMP. Ternyata saya (masih) mampu juga mengerjakannya. Meski tentunya perlu jam terbang dan latihan lagi supaya bisa mengerjakan Ujian Nasional lagi dan mendapatkan hasil di atas rata-rata.

Saya tidak tahu maksudnya Tuhan ini apa dikala saya rasa kesibukan cukup banyak tapi tiba-tiba ‘kedatangan’ tugas seperti ini. Semoga usia saya tetap bisa bermanfaat. Amiin...

06 January 2013

Apa Dampak Orang Tua yang Selalu Mengomel kepada Anaknya?


Kini, saya sudah menjalani sendiri hidup berumah tangga itu. Yang tahun lalu mungkin saya yang menjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga milik Bapak Ibu saya, sekarang saya sudah punya rumah tangga sendiri meski masih berdua bersama istri. (Horeee...)

Ada yang penting yang ingin saya bagi di sini. Asal tahu saja saya dulu tidak pernah (sepertinya bukan sengaja, cuma berat saja menjalankannya) menuruti aturan sepele yang berlaku di rumah saya. Aturan ini dibuat oleh bapak ibu saya dan al hasil saya selalu diomeli jika melanggar. Beberapa aturan sepele itu adalah: setiap selesai dari kamar mandi saya diharuskan keset terlebih dahulu supaya kaki saya kering dan tidak membasahi lantai yang saya lewati. Saya sering melanggar hal ini (tentunya dengan alasan saya sendiri. Hehe).

Aturan lain: Jika saya selesai memakai motor dan hujan-hujanan atau motor itu jadi kotor karena telalu sering saya pakai maka saya selalu diminta mencucinya agar bersih kembali. Di sini saya juga sering melanggar dan bermalas-malasan mengerjakannya. Akhirnya sampai harus dimarahi dulu baru saya mengerjakannya.

Aturan lain: Jika merasa rumah sudah kotor karena debu, sebaiknya segera disapu dan kalau perlu dipel supaya bersih kembali. Dan saya-pun berat sekali menjalankan aturan ini. Hasilnya ibu saya kadang sudah capek ngomeli saya dan beliau kerjakan sendiri. Dan karena seringnya melanggar, saya pun merasa biasa-biasa saja akan hal itu. (keterlaluan)

Aturan lain: selalu meminta jika ruangan sudah tidak dipakai harap mematikan lampu supaya bisa menghemat listri. Lagi-lagi sering saya langgar.

Aturan lain: Kalau baju sudah kotor segera di rendam dan dicuci supaya bisa segera dipakai dan kotor yang menempel bisa dihilangkan. Lagi-lagi sering tidak saya hiraukan.

Dan beberapa aturan ‘sepele’ lainnya yang juga sering saya langgar. Bahkan sampai saya 'setua ini' sebelum memiliki keluarga sendiri.

Omelan bapak ibu itu kalau saya ingat-ingat sudah terjadi sejak saya kecil (mungkin mulai saya sekolah dasar) sampai ‘setua’ ini. Nyaris tanpa henti mengingatkan saya (baca: ngomeli saya) akan hal yang sama terus menerus, dan begitu pula saya juga terus-menerus bandel melanggarnya. (Daasarrrr!!!)

Tapi tiba-tiba saya terkaget-kaget saat harus tinggal di rumah sendiri yang menjadi tanggung jawab saya. Yang disana ada konsumsi listrik dari lampu dan perangkat elektronik yang saya pakai. Memiliki motor yang menjadi tanggung jawab saya sendiri. Memiliki pakaian yang menjadi tanggung jawab sendiri. Dan semua hal yang menjadi tanggung jawab saya sendiri, tidak ada orangtua lagi. Saya terkaget-kaget.

Anehnya kagetnya saya bukan karena ternyata saya harus dengan terpaksa menjalankan apa yang biasa saya langgar itu, melainkan tiba-tiba saja di dalam diri saya seperti ada software yang memerintahkan anggota badan saya untuk gerak dan membereskan apa-apa yang dulu selalu saya langgar saat masih bersama orang tua.

Foto Bapak Ibu saya. Ini foto Bapak saya yang terakhir saya berkesempatan mengambil gambar beliau. Di potret secara diam-diam di terminal Arjosari Malang saat menunggu bus setelah mengantarkan Bapak berobat di RS. Saiful Anwar Malang. Beberapa lama sesudahnya Beliau kembali terlebih dahulu.


Tiba-tiba kaki saya bisa keset dengan baik dan benar sehingga tidak meninggalkan jejak basah di lantai. Tiba-tiba setiap melihat motor saya kotor tangan saya gatel untuk segera mencucinya agar tampak kinclong lagi. Tiba-tiba saya semangat mencuci baju jika sudah banyak tumpukan baju kotor di bak. Dan tiba-tiba tangan saya otomatis menekan tombol OFF pada saklar lampu ruangan ketika saya hendak meninggalkan ruangan tersebut. Tiba-tiba saya merasa risih jika rumah saya sudah mulai kotor karena debu dan segera saya ambil sapu dan jika pelu saya pel lantai supaya bersih dan nyaman lagi.

Kemudian saya merenung, hebat benar diri saya. Eh… ternyata tidak, bapak ibu saya yang hebat bisa kuat (baca: sabar) mengingatkan saya (baca: mengomeli saya) mulai dari saya kecil hingga ‘setua’ ini.

Ini pelajaran penting bagi saya yang akan saya hadapi dan gunakan kedepannya. Saya harus siap ‘dibalas’ oleh anak saya dengan ‘pembangkangan-pembangkangan’ kecil yang akan mereka lakukan sebagaimana saya lakukan pada orang tua saya dulu. Dan saya pun harus siap mengingatkannya terus-menerus tanpa merasa capek karena saya tahu bahwa jika waktunya tiba nanti nasehat saya akan membuahkan hasil juga.

Terima kasih bapak, ibu. Jika tidak keberatan saya mohon doa untuk kedua orang tua saya, dan saya pun juga mendoakan siapapun yang membaca ini supaya orang tuanya diberikan kesehatan dan keselamatan dalam hidup.

Untung (seingat saya) saya tidak pernah membangkan untuk perintah-perintah yang penting dan tidak sepele. Hehehe…. :p

Apa kamu mengalaminya juga?

06 July 2012

Segelas Kopi dari Barista Terbaik



“Ini adalah kopi terbaik di dunia saat ini. Itu yang mengatakan bukan saya, tapi para kritikus kopi dunia. Dan ini adalah mesin kopi terbaru saat ini yang ada, dan hanya ada satu di Indonesia karena memang belum diperjualbelikan di Indonesia, saya membawanya dari Singapura.” Kata kawan saya yang baru memenangkan kejuaraan Barista tingkat Asia Pasific di Singapura beberapa waktu lalu.

Namanya Mas Doddy (@doddy_samsura), Dia menceritakan hal tersebut sambil meracikkan kami segelas kopi sekaligus mendemokan bagaimana barista mengolah kopi menggunakan mesin-mesin canggih yang baru saat itu saya melihatnya langsung.

1/15 coffee adalah nama coffeeshop tersebut. Dibaca onefifteenth coffee (@115Coffee). Berada di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Saya datang ke sana diajak teman kuliah saya untuk diperkenalkan dengan salah satu temannya yang benar-benar pecinta kopi. Saya langsung mengiyakan saja ajakan tersebut.

Saya termasuk penikmat kopi, lebih tepatnya peminum kopi, karena setelah ‘didongengi’ banyak tentang kopi saya banyak tidak tahunya daripada ngertinya tentang kopi. Setelah dari dialog di coffeeshop tersebut akhirnya saya menemukan sebutan yang pas untuk diri saya, yaitu penikmat kopi sobek, alias kopi sachet. Bukan penikmat kopi ‘beneran’. Hehehe…

Kesana-kemari saya dicritai tentang kopi. Mulai dari bagaimana kopi itu diracik, kopi seperti apa yang bagus dan tidak, dan bagaimana menjaga kualitas biji kopi. Dia juga menceritakan secara singkat biji kopi-biji kopi di belahan dunia lain. Karena dia sudah menyabet nomor 2 di kejuaraan barista Internasional, saya wajib percaya karena sang pakar sedang menerangkan pada saya secara langsung sekaligus mendemokan.

Praktis saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang kopi. Jadi rasanya semakin afdhol jika saya setiap hari menikmati kopi (meski tidak sampai pada level addict) karena kini saya lebih tahu tentang biji hitam ini. Saya mengangguk-angguk saja karena nyaris banyak kata-kata asing (bukan bahasa asing, tapi asing karena saya tidak pernah tahu sebelumnya). Saya pun melempar pertanyaan alakadarnya takut justru pertanyaan saya yang salah.

Kemudia saya juga tertarik untuk menggali perjalanan mas Doddy di dunia biji kopi. Saya tanya,

“Mas, sejak kapan jatuh cinta pada kopi?”

“Dulu saya kena postpower syndrome saat masih kuliah, setelah sebelumnya sibuk, (semakin tua semester) kemudia nyaris tidak ada aktivitas lagi. Saya membaca lowongan kerja untuk menjadi pelayan kedai kopi, saya coba saja mendaftar dan diterima. Itu terjadi tahun 2008. Sejak saat itu semakin saya dalam mempelajari, ternyata semakin dalam juga (ilmu tentang kopi)”

Mas Doddy adalah mantan mahasiswa FIlsafat UGM asal Medan. Lama kuliah dan tidak lulus-lusus. Dan sampai sekarang menurut cerita yang saya dengar dari teman yang memperkenalkan dengan mas Doddy, kuliahnya memang tidak sampai ditamatkan meski sudah sampai semester tua.

Tampilannya Mas Doddy rapi, humble, asyik, dan ramah. Kemudian saya lanjut bertanya,

“Berarti praktis ‘hanya’empat tahun (untuk mencapai prestasi) di dunia biji kopi?”

Jawabannya, “Ya.”

Bukan menganggap cerita Mas Doddy  tentang biji kopi tidak penting, lebih karena saya banyak tidak tahunya tentang hal itu yang akhirnya menjadi pengetahuan baru buat saya. Tapi dialog akan pencapaiannya yang terakhir meyakinkan saya lagi bahwa orang bisa hidup dengan mengejar passionnya. Orang yang sudah tahu apa yang dia cintai tidak akan pernah menjadi biasa-biasa saja. Waktu ‘hanya’ empat tahun sudah cukup untuk berubah dari no one menjadi someone.

Memang dia masih terus mengasah kemampuannya, setelah cukup sukses jadi barista kopi, kini Mas Doddy sedang mengasah insting bisnis kopinya.

“(Coffeeshop) Ini masih sepi mas, memang masih baru dan belum banyak yang tahu selain para pecinta kopi. Banyak yang masih harus diperbaiki lagi sehingga orang merasa nyaman minum kopi di sini.” Katanya  yang kini menjadi store manager coffeeshop 1/15.

Masih mau menggadaikan waktu berharga kamu untuk melakukan hal-hal yang tidak kamu cintai?


*Foto di atas diambil segera setelah Mas Doddy membuatkannya untuk saya. Ini pertama kali saya menyaksikan langsung biji kopi diracik dengan mesin kopi dan saat itu juga saya tahu bagaimana cara menyajikan kopi sehingga bisa berbentuk hati seperti itu (hanya tahu tapi jangan disuruh praktik karena saya pasti belum bisa). Menurut saya itu keren.

06 June 2012

Mau Tahu Tiga Kunci Hidup Biar Hidup Makin Mudah?


Ini saya menemukan diskusi menarik antara dua kawan yang sepertinya sudah lama tidak bertemu. Silakan langsung saja di simak tanpa berlama-lama. Tapi mohon maaf agak roaming karena nemunya berbahasa seperti ini dan saya belum sempat mentranslate ke Bahasa Indonesia. Nanti kalau ada waktu saya coba untuk membahasaindonesiakan. Saya memberinya tajuk "Tiga Kunci Hidup".

Begini dialognya:

Sutomo : assalamualaykum

Muhsin : waalaikumsalam
nagih yo? Sabar sek

Sutomo: gak, santé ae 

Muhsin: hehehe

Sutomo : piye kabar e anak bojo? 

Muhsin : apik2 wae
ojo ngece kowe

Sutomo : huhuheuhauhauhauhau
maksud e?

Muhsin : ah mbencekno arek iki

Sutomo: ngrecek iku opo?
ngrecoki? ta ngece?

Muhsin: ngece lah, wong backstreet ditakok takokne

Sutomo: oaaallaaahh.... takkiro ngrecoki
mangkane aku gak faham maksud e

Muhsin : omahmu iku ponorogo opo jepara?

Sutomo: omahku jepara
wes pindah teko ponorogo

Muhsin: hhmmmm
piye bisnise?
dungaren maeng nyopo disek
pak wirausaha iki biasae sibuk

Sutomo: haha.... biasae gak ngeceki sopo ae seng OL. lha iki kok ketok yowes tak uluk salam.
alhamdulillah INsya Alloh tambah oke

Muhsin: Amin...
kowe agomone kuat
kate dadi pgawai pajek wurung
akeh kkn e
diparingi gusti Allah wirausaha

Sutomo : alhamdulillah... mugo2 iso berkah

Muhsin : lha aku piye? 

Sutomo : huhauhauhauha.... mbojo ae enak. wes halal 

Muhsin: entut kowe

Sutomo : huhauhauuahhauuah
lha yopo maneh kate. aku ae kepingin sampe kemecer

Muhsin : wahaahhaa kemecer ampe ono gambar pulau nang cd mu
orang berjenggot napsune gede
wkwkwk

Muhsin : butuh duwit akeh iki

Sutomo : lha iki seng kurang sip.
tenan iki yo. setelah beberapa saat iki gak dadi karyawan, kontemplasi dan 'perjalananku', insya alloh aku semakin faham duwit iku gak penting
alias. gak usah terlalu kepingin ng duwek.
whehehe.... nek ngerti dalan e. duit e tiba2 teko dewe.
gusti Alloh iku sugih gak karo2an.

Muhsin : iyo, maeng aku moco statusmu tentang larangan mencintai sesuatu
opo seng disenengi bakal dijupuk
atau ga bermanfaat bagi kita

Sutomo : aku kok sampe pada kesimpulan 'urip iku gampang dan simpel'
iki duduk metuek sok2an yo. tapi justru aku ngomong ngunu iku karena aku duduk sopo-sopo

Muhsin : oyi, Insya Allah kowe g salah ngejak aku seng jeru ngene. kawet enom, aku seneng ngaji. saiki gedene, beberapa hal dr ilmu dunia seng tak pelajari kadang kelalen
jwbn seng mbok temokne mengenai urip seng simpel iku piye se?
 apakah cukup mangan iku wes gawe sambel iwak tempe ae cukup. ga perlu werno2

Sutomo : nah. esensine duduk iku. nek jek ribut iwak e mangan. brrti durung tutuk jekan. hehe
sek yo. pokok kudu difahami aku ngomong ngene iki duduk sok2an yo. dadi ben penak aku ngomong e
iki aku rodok koyok ceramah, tapi yo yoopo maneh pancen kayok ngunu nyatane urip iki
ngene, awal e urip ditoto maneh yo
"tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah"
dadi tujuan penciptaan iku ibadah. (siji yo)

Muhsin : biyen jamanku cilik , pak kyai ngomong. urip kudu qanaah, ora oleh sambat karo cubone gusti Allah. saiki aku ditakdirne neng luar jawa, adoh kadang ngersulo, nyambut gawe ga semangat. nek gawe ilmu qanaah, pasrah lan berbaik sangka nang Allah, kan ga ono kata gelo. isine urip dadi optimis

Sutomo : seng ke loro. sebaik2 manusia adalah yang paling bermanfaat.
wes. pokok nek urip e kene manfaat, pasti dadi mulyo. iku jaminan e teko nabi langsung, kekasih e sg duwe urip.
pokok semakin kita tidak orientasi pada diri sendiri alias orientasi pada orang lain. urip e kene langsung diatasi gusti alloh dewe. jaluk opo keturutan. pengen ngene keturutan.
aku seng iku yo sek belajar dan praktek
terus seng ke3. ojok terlalu terkecoh karo 'perhiasan dunia' <= iki pancen koyo omongan e rhoma irama. tapi iku pancen temenan, seng ngomong asline Nabi pisan.
nek sg wes ke3 iku lulus. Pasti urip iku gak repot, iso ndelok ndi seng penting, ndi seng gak penting.

Muhsin : seng ke 2 maeng inti sarine kene ora oleh egois ngunu kan?

Sutomo : lebih dari itu. bukan hanya selesai kita tidak egois, tapi tambah lagi dengan mementingkan yang lain daripada diri sendiri.

Muhsin : ya ya, sip Tomo. maturnuwon kowe wes ngoncek i isine kitab trus mbok transferne neng aku Sutomo : hehe... podo2. aku yo podo belajare ng kowe 
podo2 sinau dan praktek e iki. 

Sutomo : terus last but not least: ono ungkapan jeru iki. seng asline merujuk pada seng pertama mau: "Kerja (atau aktivitas yang lebih luas) itu dilakukan untuk mengisi masa senggang sebelum saat sholat datang lagi"
wes.. iku ae sek. hehe.... wes adhan Ashar. tak Ngasaran sek. Assalamualaykum 

Muhsin : mantab thanks ...moga membawa kesadaran iman gawe aku



Selamat mengambil hikmah.



Sumber dari sini.

03 June 2012

Bermain-Main dan Dibayar Mahal #BerbagiIdeSegar


Hobbynomics is doing something you love much, so you never work anymore.

Itulah garis besar seminar yang diadakan oleh tim dari #berbagiIdeSegar dengan pembicara CEO PT. Petakumpet, M. Arief Budiman ( @mybothsides ) dengan judul Bermain-Main dan Dibayar Mahal.

Dengan kesadaran optimis bahwa pemuda jaman sekarang memiliki kecerdasan yang melebihi generasi kita sebelumnya, Mas Arief mendorong kaum muda untuk lebih berani menentukan pilihan masa depannya sendiri. Karena jika tidak, akan ada orang lain yang dengan sukarela menawarkan cita-citanya untuk kita jalankan, dan itu sungguh sangat disayangkan.

Karena jika tidak, akan ada orang lain yang dengan sukarela menawarkan cita-citanya untuk kita jalankan, dan itu sungguh sangat disayangkan.

Untuk menjelaskan bahwa ‘adik-adik kelas’ kita lebih cerdas daripada kita, dia mengambil contoh anak temannya yang masih balita. Anak itu tanpa sepengetahuan orang tuanya telah bisa mendownload aplikasi game sendiri dari iPad milik orang tuanya dan menyelesaikan satu stage sendiri tanpa bantuan orang lain. Padahal orang tuanya saja masih perlu belajar beberapa hari untuk bisa melakukan hal yang sama.

Contoh lain yang bisa dijadikan gambaran betapa generasi sekarang ‘lebih pintar’ dari generasi sebelumnya. Lihat anak-anak SMA (sering kita sebut anak Alay) lebih banyak memiliki follower di akun twitternya daripada seorang professor yang kadang hanya memiliki tiga belas follower. Itupun Cuma rekan-rekan sejawat dosen dan mahasiswa yang tidak enak jika tidak tidak memfollow dosennya.

Dengan gambaran ini, bisa dilihat secara singkat pengaruh anak SMA sekarang lebih meluas daripada seorang Profesor pun. Memang fakta itu bisa terlalu simplifikasi, tapi mau tidak mau ada kebenaran di dalamnya.

Anak-anak muda sekarang harusnya mempunyai pandangan potensial yang tajam. Pandangan potensial adalah pandangan yang tidak hanya tampak oleh mata, tapi pandangan futuristic akan menjadi apa suatu hal nantinya. Semisal Steve Jobs, dia memiliki pandangan potensial mengenai masa depan manusia dan teknologi yang akhirnya behasil menelurkan perangkat futuristic keluaran Apple Inc. Dan anak muda jaman sekarang harusnya sangat bisa meniru langkah-langkah tersebut karena banyaknya infomasi di sekitar kita. Namun dengan syarat anak muda itu harus memiliki kreatifitas yang dijalankan sepanjang kehidupannya!

Bermain-main dan dibayar mahal sejatinya adalah keberanian kita untuk memilih bidang apa yang akan kita geluti sepanjang usia hidup kita untuk menciptakan kemanfaatkan yang besar untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. Jika seseorang sudah enjoy dengan apa yang dilakukannya, niscaya ‘bekerja’ 24 jam sehari pun tak terasa seperti bekerja, karena sejatia dia hanya sedang bermain. Karena anak kecil bermain itu tidak pernah mengenal lelah dan berhenti, sebelum dimarahi oleh orang tuanya. Hehe…

Ambil semangat anak kecil yang tanpa henti terus bermain, apapun yang dihadapi.

Jika sudah menemukan apa yang paling diminati, segera lakukan sekarang dan jangan menunggu nanti-nanti. Karena cita-cita 1 mil harus diawali dengan satu langkah.

Kebanyakan kita seringkali terjebak untuk memulai sesuatu mensyaratkan semua persiapan dan bekal harus sudah dibawa sejak langkah pertama. Padahal –perumpamaan- seperti menempuh perjalanan ke Jakarta dari Surabaya melalui jalur darat dengan jarak 1000 km lebih, sebuah mobil tak perlu menunggu tangki bensinnya penuh tanpa mengisi bahan bakar di tengah jalan. Dan cukup dengan sorot lampu 10 meter ke depan tanpa menunggu semua jalur harus tersorot lampu mobil. Sorot lampu 10 meter ke depan ternyata cukup untuk bisa menaklukkan 1000 km perjalanan. Cukup jalani dengan apa yang sudah kita miliki sekarang, sejengkal-demi sejengkal maka akan sampai pada tujuan yang kita inginkan.

Satu lagi penyakit anak muda untuk memulai karir yang tidak ‘nyaman’ adalah ketakutannya apakah bisa ‘hidup’ dari bidang tersebut. Mas Arief memberikan pelajarannya bahwa: segala sesuatu yang tidak membuatmu mati, akan membuatmu lebih kuat. Penduduk Jepang yang tidak mati saat Bom Heroshima dan Nagasaki akan jauh lebih hebat untuk bisa mengantisipasi dan menciptakan teknologi untuk masa depannya agar musibah yang sama tidak terulang. Dan dalam hal karir, pemuda dengan pikiran masih cemerlang dan jasmani masih kuat, tidak pernah ada sejarah mati karena berani menuruti kata hatinya untuk melakukan pekerjaan yang dia sukai. Menganut pada ungkapan di atas, harusnya jika tidak sampai mati berarti kita bisa menjadi semakin kuat dan handal!

Di jaman sekarang, melakukan tindakan destruktif itu memang lebih mudah daripada melakukan tindakan yang membangung. Tapi peran pemuda sekarang dituntuk untuk melakukan perbaikan-perbaikan di lingkungan sekitarnya, karena di tangan kitalah masa depan dunia ini. Dan cara untuk melakukan perbaikan dengan cara yang paling enjoy adalah bermain-main seperti kita kecil dulu, namun permainan yang dilakukan dengan serius sehingga menciptakan manfaat bagi orang lain.

Mas Arif misalnya, memulai perusahaan PT. Petakumpet dari kamar kosan saat kuliah dulu. Dia berani bermimpi 10 tahun kedepan akan memiliki kantor yang setara dengan kantor DELL di Australia kala itu, dan sekarang benar, sudah 80% cita-cita yang diinginkan itu sudah bisa nya disaksikan di kantor Petakumpet di Jogjakarta. Padahal saat menceritakan impian ke kawan kosannya dulu, dia masih berhutang 2 bulan belum bayar uang kosan.

Padahal saat menceritakan impian ke kawan kosannya dulu, dia masih berhutang 2 bulan belum bayar uang kosan.

Tapi itulah, memulai sesuatu memang tidak perlu menunggu semuanya mapan dan tersedia di depan mata kita. Cukup segera mulai langkah awal, belajar dan berdoa saat di tengah jalan agar selalu dimudahkan dan diberikan petunjuk untuk bisa sampai garis Finis tujuan baik kita.

Kebanyakan dari kita saat memulai karir pasca lulus pendidikan formal adalah mengajukan pertanyaan berapa gaji yang diterima. Padahal pekerjaan belum dilakukan sama sekali. Akhirnya saat ditantang untuk berani mengikuti kata hati ingin ‘bermain’ apa, mereka dibayangi dapat berapa rupiah saya nantinya?

Padahal hukum alam di dunia tidak demikian. Mas Arief mengumpamakan sikap seperti itu seperti lomba lari. Sebelum bel start dibunyikan, para peserta sudah sibuk negosiasi akan menjadi juara berapa nantinya. Jelas saat bel start beneran dibunyikan, para penonton sudah tidak semangat lagi menyimak jalannya pertandingan karena sudah diketahui siapa yang akan juara.

Tapi anehnya dalam hal pekerjaan dan karir, kita terjebak pada sikap ‘tidak menarik’ itu tadi. Memilih dan mempertimbangkan berapa yang akan diterima sebelum melakukan pertandingan.

Kini, perusahaan yang dimulai dari kamar kosannya, pekerjaan yang dilakukan dengan bermain-main itu telah diganjar dengan 105 penghargaan nasional dalam bidang periklanan. Mimpinya adalah menjadikan perusahaannya masuk menjadi cover majalah Fortune dengan diawali membeli majalah tersebut secara eceran saat mahasiswa dulu.



Mas Arief dan rombongannya salah (salah satunya adalah Mas Iqbal @iqbalrekarupa ) kini sedang menempuh perjalanan 40 hari 40 kota untuk berbagi ilmu dan pola pikir kreatif serta merealisasikan impiannya: Indonesia tahun 2020 menjadi negara paling kreatif di dunia, sebab dia sangat optimis dengan SDM Indonesia.

Rombongan ini juga membawa misi Sedekah Rombongan Roadshow di setiap kota yang disinggahinya, dan Alhamdulillah saya berkesempatan berjumpa dan mencicipi ilmunya di Malang 26 Mei kemarin.

02 May 2012

May Day: Siapa Buruh, Siapa Tuan?

Sekarang hari butuh Internasional, lebih akrab disebut May Day. Hari ini selalu diperingati oleh demo dari serikat buruh yang ada di hampir seluruh daerah di Indonesia. Yang terparah dan jadi sorotan tentu yang di Jakarta. Selain memang pusat kekuasaan, di Jakarta yang sudah macetnya minta ampun, akan semakin parah jika ditambah demo, baik demo buruh, mahasiswa atau elemen masyarakat lain. Kontan kekhawatiran banyak dirasakan masyarakat. Tapi saya di sini tidak akan menulis tentang demo buruh atau May Day secara khusus. Saya hanya tergelitik saat berpikir, siapa yang sebenarnya buruh dan siapa yang sebenarnya tuan.
Buruh dan Tuan kalau boleh saya analogikan dengan kata lain yakni yang melayani dan dilayani. Yang melakukan pekerjaan disebut pelayan. Jadi daripada muter-muter, saya simplekan di sini siapa sebenarnya yang jadi pelayan?



Kalau menurut saya, pelayan itu masalah perspektif bagaimana kita memandang apa yang kita lakukan. Bukan perkara sebuah profesi yang selalu diidentikkan dengan kalangan bawah yang ‘menghamba’ pada yang lebih punya kuasa.

Saya punya adegan seperti ini. Seorang pembantu kerjaannya cuma membersihkan rumah mewah tuannya setiap pagi dan sore, memasak masakan dengan bahan-bahan mahal untuk melayani tuannya. Itu saja kadang dimakan sedikit, terpaksa si pembantu menghabiskan makanan mewah yang dimasaknya tadi.

Setelah tuan berangkat kerja, kadang sampai gak pulang beberapa hari, si pembantu tinggal nonton teve, duduk di sofa mewah, dan menjaga keamanan rumah jika sewaktu-waktu ada orang mencurigakan mengintai.
Saat tuannya berangkat kerja-pun, si pelayan langsung mengambil mobil Alphard di garasi dan menyopirinya tanpa rasa sungkan karena memang itu yang dilakukan sehari-hari. Setelah sampai, si pelayan (sopir) bisa tinggal duduk santai sambil baca Koran dan minum kopi di sofa Alphardnya tadi, padahal si tuan sedang kerja mati-matian dan mengejar deal-deal besar.

JIka pembantu di rumah tadi sudah capek nonton teve, sementara tuannya masih sibuk kesana-kemari bertemu dengan klien, si pembantu tinggal bobo siang aja di ranjang mahal. Atau jika pengen jus tinggal bikin sendiri karena perlengkapan dan buah sudah melimpah ruah di dapur. Si tuan masih harus menunggu waktu makan siang, dan harus berjalan atau bermacet-macet ria menuju tempat makan (restoran). Habis makan bill datang dan bayar. Si pembantu setelah jus dan rotinya habis tinggal cuci bersih seperti pekerjaan dia sehari-hari terus melanjutkan bobo siang.

Saat pulang di sore atau malam hari, si pembantu sudah daritadi selesai masak dan tinggal leyeh-leyeh nonton infotainment dan si tuan datang dengan tubuh letih dan siap langsung istirahat. Makan malam dan kemudian tidak sempat nonton bola seru Barcelona versus Real Madrid. Si pembantu sedikit menyiapkan perlengkapan tuan, kemudian duduk selonjoran sambil ngelthiki kacang dan segelas kopi menghadap teve mengharap Barca bisa menang melawan Madrid.

Akhir bulan, si pembantu tinggal tunggu saja setoran bulanan yang memang sudah menjadi haknya dan menjadi kewajiban tuannya. Kalau si pembantu mau, dia bisa berkhayal di dalam pikirannya itu adalah upeti yang harus di serahkan tuannya kepada dirinya setiap bulan. Orang-orang menyebutnya gaji, tapi dia bisa saja menyebutnya upeti untuk dirinya.

Dramatikal di atas tadi berulang lagi bulan depannya, bulan depannya, dan bulan depannya lagi.
Teaterikal di atas bisa belaku untuk tuan dan buruh di semua lini ‘perburuhan’, tidak terbatas pada hubungan pemilik rumah dan pembantu rumah tangga. Tinggal mindset kita di setting seperti pembantu menerima upeti tadi, maka seketika kita sudah menjadi tuan yang tinggal menunggu setoran tiap bulannya.

Memang, adegan kehidupan sesungguhnya tidak sesederhana itu. Tapi kadang sering juga kita menjadikan dunia ini rumit, padahal sudah tahu semua ini senda gurau belaka. Hehehe…

*) Jadi sebenarnya, bukan peran profesi di mana kita berada di dunia, tapi keikhlasan dan kemanfaatan atas kehadiran diri kita apakah sudah cukup berguna dan berlaku baik untuk sesama manusia. Bukankah yang diperhitungkan itu amalan baik kita? Bukan jadi buruh atau tuan. Syukur-syukur jika bisa jadi tuan, meski tuan yang menerima upeti di cerita di atas tadi. #Eh… :p


* Ditulis 1 Mei, di post 2 Mei karena koneksi internet di kampung lagi letoy

03 September 2011

Belajar pada Anak-Anak


Semakin dewasa manusia memang semakin banyak saja yang dipikir dan menjadi beban. Padahal saat kita kecil, ringan saja melakukan apapun. Kalau punya keinginan akan terus dikejar tanpa henti. Lari-lari tanpa henti dan ngos-ngosan. Kalo perlu sampe nangis berat dan ngeyel. Baru berhenti nangis kalau yang diinginkan sudah dipenuhi dan didapat. Kita sudah gede sekarang? Boro-boro mau lari ngos-ngosan sampe nangis dan ngeyel, yang ada adalah gampang ngeluh, cepet lelah dan kurang ngeyel. Alhasil hanya yang masih mempertahakan sifat ngeyel yang bisa terus bertahan berproses sampai menemukan hasilnya. Kalau yang tidak tahan ya KO ditengah jalan dan tidak akan mencapai apa yang dia inginkan.

Tapi apa kita mau kembali lagi jadi anak kecil? Tidak semua mau karena jelas tidak mungkin. Hehe… yang bisa adalah mempertahankan sikap-sikap layaknya anak kecil yang tidak gampang menyerah dan jika ada masalah hari itu ya selesai hari itu. Tiap buka mata di pagi hari selalu dengan keriangan baru meski diawali dengan tangisan karena belum puas tidur malah dibangunin orang tua buat sholat subuh. Beda dengan yang sudah gede, bangun pura-pura senyum dan baik-baik saja padahal dipikirannya banyak beban yang seolah-olah gak tuntas-tuntas diselesaikan. Itu yang sering saya rasakan juga, kan saya sudah gede. :p

Sikap-sikap anak kecil yang perlu dibentuk lagi kalau mau ‘tahan banting’ layaknya anak kecil tadi adalah: Berpikir Positif, Berimajinasi, Tulus, Pemaaf, Jujur, Solider, Apa adanya, dan Antusias. Ini saya kutip dari salah satu guru saya yang sekarang coba saya camkan betul-betul dan praktikan. Karena sejatinya saya sering tidak lulus kalau berhadapan dengan guru yang satu ini.

Akhirnya saya tutup mata, menghirup udara segar pagi ini dan mulai mewujudkan 8 sikap di atas menjadi kenyataan dalam keseharian saya. Kamu mau juga? Mari sama-sama dengan saya. :)

 

@trianfe Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger